Ada hari-hari yang berjalan tanpa capaian apa pun.
Tidak ada daftar tugas yang selesai. Tidak ada kemajuan yang bisa dibanggakan. Bahkan untuk sekadar merasa puas pun rasanya sulit. Hari-hari seperti itu sering kita beri label: tidak produktif.
Saya pernah—dan masih sering—merasa bersalah pada hari-hari semacam itu. Seolah waktu terbuang, seolah ada sesuatu yang salah dengan diri saya. Padahal, tubuh dan pikiran sedang berada di tempat yang berbeda dari target dan rencana.
Di usia ini, saya mulai melihat hari-hari tidak produktif dengan cara yang lain.
Di situlah pelajaran diam itu mulai muncul.
Hari yang tidak produktif sering kali bukan karena kita malas, melainkan karena ada sesuatu yang sedang diproses di dalam. Kelelahan yang belum sempat diakui. Pikiran yang terlalu penuh. Atau mungkin arah hidup yang sedang bergeser tanpa kita sadari.
Hari-hari ini mengajarkan saya untuk duduk lebih lama dengan diri sendiri. Mendengarkan tubuh tanpa buru-buru menyuruhnya bangkit. Membiarkan pikiran beristirahat tanpa harus segera menemukan solusi.
Belajar dan bertumbuh, di usia dewasa, tidak selalu berarti menambah kemampuan atau pengetahuan. Kadang justru tentang mengurangi dorongan untuk terus bergerak.
Ada kebijaksanaan yang hanya muncul saat kita berhenti.
Di hari-hari tidak produktif, saya mulai menyadari batas. Bukan batas yang menakutkan, tetapi batas yang jujur. Bahwa energi saya tidak selalu sama. Bahwa hidup tidak berjalan dalam grafik yang terus naik.
Dan itu tidak apa-apa.
Pelan-pelan, saya belajar menerima bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang saya selesaikan hari ini. Ada hari untuk bergerak, ada hari untuk diam. Keduanya sama-sama bagian dari proses.
Dan mungkin, di usia ini, itulah bentuk belajar yang paling jujur.
