Saya hidup cukup lama dengan cara itu.
Sampai suatu hari, tubuh mulai berbicara dengan bahasa yang berbeda. Bukan teriakan, bukan peringatan keras. Hanya sinyal-sinyal kecil yang mudah diabaikan jika kita sedang terlalu sibuk.
Awalnya saya menganggapnya wajar. Usia, kata saya pada diri sendiri. Banyak tanggung jawab, tambah saya. Tapi semakin lama, saya mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar soal usia atau kesibukan.
Ini tentang perhatian.
Tubuh tidak tiba-tiba menyerah. Ia memberi tanda jauh sebelum itu. Kita saja yang sering menundanya, menegosiasikannya, atau menolaknya dengan alasan yang terdengar masuk akal.
Di usia ini, tubuh menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu. Bukan karena ia melemah, melainkan karena ia ingin dijaga dengan cara yang berbeda.
Saya mulai memahami bahwa perhatian pada tubuh bukan tentang mengejar hidup sehat yang ideal. Bukan tentang disiplin keras atau perubahan drastis. Lebih tentang kesediaan untuk mendengarkan—tanpa menghakimi.
Ada hari ketika tubuh meminta istirahat lebih lama. Ada hari ketika ia tidak ingin diajak berlari mengejar jadwal. Dan ada saat-saat ketika diam jauh lebih menyehatkan daripada memaksakan diri bergerak.
Perhatian pada tubuh juga mengajarkan saya tentang batas. Bahwa energi bukan sesuatu yang tak terbatas. Bahwa ritme hidup perlu disesuaikan, bukan dilawan.
Ketika saya mulai memperhatikan sinyal-sinyal kecil itu, hidup terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena saya tidak lagi menambah beban dengan mengabaikan diri sendiri.
Tubuh yang diperhatikan tidak selalu langsung terasa lebih kuat. Tapi ia terasa lebih tenang. Lebih didengar. Lebih dihormati.
